sebuah cerita kuno di India. Pada suatu siang hari, beberapa Ada orang dewasa sedang mengobrol dengan santai dibawah pohon yang rindang. Tiba-tiba terdengar suara burung dengan nada sedih yang sedang berusaha terbang sekuat tenaga. Ketika dilihat, seekor burung kecil terbang rendah sekali, sebentar jatuh dan terbang lagi, tetapi sama sekali tidak berhasil, tampak menderita sekali.
Dibelakang burung kecil itu, ada sekelompok anak sedang mengejarnya dengan riang gembira, sementara para orang dewasa hanya tertawa terbahk-bahak dianggapnya itu mainan yang lucu. Nah, pada saat itulah muncul orangtua yang yang berpakaian baju putih mendekati dan menghalangi anak-anak yang mengejarnya dan berjongkok mengambil burung kecil itu pelan-pelan dengan kedu tangan.
Oh! Sayap burung itu ternyata diikat dengan tali dan diujung tali terikat satu biji batu, pantas burung itu tidak dapat terbang! Orang berbaju putih itu merasa kasihan pada burung itu. “burung itu punya kami, pulangkan kepada kami,”kata anak-anak itu dengan nada kurang sopan. Tapi orang berbaju putih itu berujar,”Aku akan membeli burung ini, berapa harganya?” mendengar uang, anak-anak itu sangat gembira dan menjualnya kepada orang itu. Orang berbaju putih tersebut dengan penuh belas kasih membuka talinya dan melepaskannya, burung itu terbang berputar-putar diatas kepalanya dengan riang seolah ingin mengucapkan terima kasih.
Selanjutnya, orang berbaju putih ini mengelus kepala anak-anak itu. “lihatlah ank-anak, burung kecil itu terbang bebas dan bernyanyi gembira, ini indah sekali bukan? Setiap jiwa pun mempunyai harga dan hak untuk hidup, ini adalah jiwa yang indah didalam langit bumi.” Anak-anak itu hanya menundukkan kepala, dan orang-orang dewasa yang disamping itu juga merasa malu. Orang berbaju putih sekali lagi mengelus kepala setiap anak, lalu pergi. Mereka melihat baying-bayang dibelakangnya, terdapat kelapangan dada yang luar biasa, dengan kelembutannya bertutur.
Tiba-tiba seorang anak berujar, “aku ingat! Beliau adalah sang raja kami.” Saat itu adalah jaman kerajaan dimana rajanya seorang penganut keluhuran budi yang taat, rakyatnya disayang seperti anaknya sendiri, sering memakai berbaju putih, masuk ke perkampungan penduduk untuk memahami keadaan rakyat dan seringmenolong orang susah.
Cerita ini memiliki pesan bahwa setiap makhluk hidup memiliki kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri. Apalagi manusia, entah anak atau saudara, dia tetap memiliki kehendak bebasnya sendiri. Terkadang kita menginginkan yang terbaik buat anak atau saudara sendiri, namun bila mereka lebih memilih jalan lain, biarkan saja mereka menjalani kehidupan. Tugas kita hanyalah mengingatkan, membantunya melihat arah dan menemaninya entah apapun keputusannya. Jangan mengikat seseorang seperti anak-anak memainkan burung dari cerita diatas.
Tampilkan postingan dengan label artikel cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel cerpen. Tampilkan semua postingan
Minggu, 06 Juni 2010
Sabtu, 05 Juni 2010
PELAJARAN PENGEMIS KEPADA SANG RAJA
Seorang raja bersama pengiringnya keluar dari istananya untuk menikmati udara pagi. Di keramaian, ia berpapasan dengan seorang pengemis. Sang raja menyapa pengemis ini, “Apa yang kau inginkan dariku?” Si pengemis itu tersenyum dan berkata, “Tuanku bertanya seakan-akan tuanku dapat memenuhi permintaan hamba.” Sang raja terkejut, ia merasa tertantang, “ tentu saja aku dapat memenuhi permintaanmu. Apa yang engkau minta, katakanlah!” maka menjawablah sang pengemis, “Berpikirlah dua kali, wahai tuanku, sebelum tuanku menjanjikan apa-apa.” Rupanya sang pengemis bukanlah sembarangan pengemis. Namun raja tidak merasakan hal itu. Timbul rasa angkuh dan tak senang pada diri raja, karena mendapat nasihat dari seorang pengemis.
“sudah kukatakan, aku dapat memenuhi permintaanmu. Apapun juga! Aku adalah raja yang paling berkuasa dan kaya raya.” Dengan penuh kepolosan dan kesederhanaan si pengemis itu mengangsurkan mangkuk penadah sedekah, “Tuanku dapat mengisi penuh mangkuk ini dengan apa yang tuanku inginkan.” Bukan main! Raja menjadi geram mendengar tantangan pengemis ini.
Segera ia memerintahkan bendahara kerajaan yang ikut dengannya untuk mengisi penuh mangkuk pengemis kurang ajar ini dengan emas. Kemudian bendahara menuangkan emas dari pundi-pundi besar yang dibawanya ke dalam mangkuk sedekah sang pengemis. Anehnya, emas dalam pundit-pundi besar itu tidak dapat mengisi penuh mangkuk sedekah.
Tak mau kehilangan muka dihadapan rakyatnya, sang raja terus memerintahkan bendahara mengisi mangkuk itu. Tetapi mangkuk itu tetap kosong. Bahkan seluruh perbendaharaan kerajan seperti emas, intan berlian, ratna mutumanikam telah habis dilahap mangkuk sedekah itu. Mangkuk itu seolah tanpa dasar, berlubang. Dengan perasaan tak menentu, sang raja jatuh bersimpuh dikaki si pengemis, ternyata dia bukan pengemis biasa, terbata-bata ia bertanya, “sebelum berlalu dari tempat ini, dapatkah tuan menjelaskan terbuat dari apakah mangkuk sedekah ini?”
Pengemis itu menjawab sambil tersenyum, “Mangkuk itu terbuat dari keinginan manusia yang tanpa batas. Itulah yang mendorong manusia senantiasa bergelut dalam hidupnya. Ada kegembiraan, gairah memuncak dihati, pengalaman yang mengasyikkan kala engkau menginginkan sesuatu. Ketika akhirnya engkau telah mendapatkan keinginan itu, semua yang telah kau dapatkan itu, seolah tidak ada lagi artinya bagimu. Semuanya hilang ibarat emas, intan, berlian yang masuk dalam mangkuk yang tanpa dasar itu. Kegembiraan, gairah, dan pengalaman yang mengasyikkan itu hanya tatkala dalam proses untuk mendapatkan keinginan. Begitu saja seterusnya, selalu kemudian datang keinginan baru. Orang tidak pernah merasa puas. Ia selalu merasa kekurangan. Anak cucumu kelak mengatakan, “kekuasaan cenderung untuk berlaku tamak.” Raja itu bertanya lagi, “adakah cara untuk dapat menutupi alas mangkuk itu?” Tentu ada, yaitu rasa syukur kepada Tuhan. Jika engkau pandai bersyukur, Tuhan akan menambah nikmat padamu,” ucap sang pengemis itu, sambil berjalan kemudin menghilang.
Cerita ini sangat jelas memberi pesan kehidupan, keinginan manusia itu tiada batasnya. Pernah kita mengatakan kalau sudah punya ini atau itu, kita tidak akan menginginkan apa-apa lagi. Nyatanya kita masih juga menginginkan yang lain. Itulah keinginan manusia, tak pernah akan cukup walau diberikan apapun juga. Namun pengemis itu memberikan jalan keluar agar kita tidak terperangkap seperti sang raja didalam cerita diatas, rasa syukur kepada Tuhan adalah cara paling ampuh agar kita tidak terperangkap dalam keinginan yang tak pernah selesai. Maka belajarlah bersyukur atas kehidupan ini, sebab keadaan yang Tuhan berikan sudah cukup untuk membuat kita bisa hidup dengan tenang dan yakin pada kuasa-Nya.
Sumber :
Christ.2010.Tabloid Bulir Mekar.jakarta
“sudah kukatakan, aku dapat memenuhi permintaanmu. Apapun juga! Aku adalah raja yang paling berkuasa dan kaya raya.” Dengan penuh kepolosan dan kesederhanaan si pengemis itu mengangsurkan mangkuk penadah sedekah, “Tuanku dapat mengisi penuh mangkuk ini dengan apa yang tuanku inginkan.” Bukan main! Raja menjadi geram mendengar tantangan pengemis ini.
Segera ia memerintahkan bendahara kerajaan yang ikut dengannya untuk mengisi penuh mangkuk pengemis kurang ajar ini dengan emas. Kemudian bendahara menuangkan emas dari pundi-pundi besar yang dibawanya ke dalam mangkuk sedekah sang pengemis. Anehnya, emas dalam pundit-pundi besar itu tidak dapat mengisi penuh mangkuk sedekah.
Tak mau kehilangan muka dihadapan rakyatnya, sang raja terus memerintahkan bendahara mengisi mangkuk itu. Tetapi mangkuk itu tetap kosong. Bahkan seluruh perbendaharaan kerajan seperti emas, intan berlian, ratna mutumanikam telah habis dilahap mangkuk sedekah itu. Mangkuk itu seolah tanpa dasar, berlubang. Dengan perasaan tak menentu, sang raja jatuh bersimpuh dikaki si pengemis, ternyata dia bukan pengemis biasa, terbata-bata ia bertanya, “sebelum berlalu dari tempat ini, dapatkah tuan menjelaskan terbuat dari apakah mangkuk sedekah ini?”
Pengemis itu menjawab sambil tersenyum, “Mangkuk itu terbuat dari keinginan manusia yang tanpa batas. Itulah yang mendorong manusia senantiasa bergelut dalam hidupnya. Ada kegembiraan, gairah memuncak dihati, pengalaman yang mengasyikkan kala engkau menginginkan sesuatu. Ketika akhirnya engkau telah mendapatkan keinginan itu, semua yang telah kau dapatkan itu, seolah tidak ada lagi artinya bagimu. Semuanya hilang ibarat emas, intan, berlian yang masuk dalam mangkuk yang tanpa dasar itu. Kegembiraan, gairah, dan pengalaman yang mengasyikkan itu hanya tatkala dalam proses untuk mendapatkan keinginan. Begitu saja seterusnya, selalu kemudian datang keinginan baru. Orang tidak pernah merasa puas. Ia selalu merasa kekurangan. Anak cucumu kelak mengatakan, “kekuasaan cenderung untuk berlaku tamak.” Raja itu bertanya lagi, “adakah cara untuk dapat menutupi alas mangkuk itu?” Tentu ada, yaitu rasa syukur kepada Tuhan. Jika engkau pandai bersyukur, Tuhan akan menambah nikmat padamu,” ucap sang pengemis itu, sambil berjalan kemudin menghilang.
Cerita ini sangat jelas memberi pesan kehidupan, keinginan manusia itu tiada batasnya. Pernah kita mengatakan kalau sudah punya ini atau itu, kita tidak akan menginginkan apa-apa lagi. Nyatanya kita masih juga menginginkan yang lain. Itulah keinginan manusia, tak pernah akan cukup walau diberikan apapun juga. Namun pengemis itu memberikan jalan keluar agar kita tidak terperangkap seperti sang raja didalam cerita diatas, rasa syukur kepada Tuhan adalah cara paling ampuh agar kita tidak terperangkap dalam keinginan yang tak pernah selesai. Maka belajarlah bersyukur atas kehidupan ini, sebab keadaan yang Tuhan berikan sudah cukup untuk membuat kita bisa hidup dengan tenang dan yakin pada kuasa-Nya.
Sumber :
Christ.2010.Tabloid Bulir Mekar.jakarta
Langganan:
Postingan (Atom)