Dalam memberiksn pengobatan atau penanganan pada anak autis para orang tua harus hati-hati dan jangan sembarangan membiarkan anaknya sebagai kelinci percobaan dalam pemberian terapi. Namun masih banyak yang terkecoh dengan pengobatan-pengobatan palsu yang beredar dipasaran, dan setelah mengeluarkan banyak uang menjadi kecewa karena hasil yang diharapkan tidak tercapai.. Namun, jangan lupa bahwa Gangguan Spectrum Autisme adalah suatu gangguan proses perkembangan, sehingga terapi jenis apapun yang dilakukan akan memerlukan waktu yang lama. Terapi harus dilakukan secara terpadu dan setiap anak membutuhkan jenis terapi yang berbeda. Dibawah ini ada 10 jenis terapi yang benar-benar diakui oleh para professional dan memang bagus untuk autisme:
1) Applied Behavioral Analysis (ABA)
ABA adalah jenis terapi yang telah lama dipakai , telah dilakukan penelitian dan didisain khusus untuk anak dengan autisme. Sistem yang dipakai adalah memberi pelatihan khusus pada anak dengan memberikan positive reinforcement (hadiah/pujian). Jenis terapi ini bias diukur kemajuannya. Saat ini terapi inilah yang paling banyak dipakai di Indonesia.
2) Terapi Wicara
Hampir semua anak dengan autisme mempunyai kesulitan dalam bicara dan berbahasa. Biasanya hal inilah yang paling menonjol, banyak pula individu autistic yang non-verbal atau kemampuan bicaranya sangat kurang.
Kadang-kadang bicaranya cukup berkembang, namun mereka tidak mampu untuk memakai bicaranya untuk berkomunikasi/berinteraksi dengan orang lain. Dalam hal ini terapi wicara dan berbahasa akan sangat menolong.
3) Terapi Okupasi
Hampir semua anak autistik mempunyai keterlambatan dalam perkembangan motorik halus. Gerak-geriknya kaku dan kasar, mereka kesulitan untuk memegang pinsil dengan cara yang benar, kesulitan untuk memegang sendok dan menyuap makanan kemulutnya, dan lain sebagainya. Dalam hal ini terapi okupasi sangat penting untuk melatih mempergunakan otot -otot halusnya dengan benar.
4) Terapi Fisik
Autisme adalah suatu gangguan perkembangan pervasif. Banyak diantara individu autistik mempunyai gangguan perkembangan dalam motorik kasarnya.
Kadang-kadang tonus ototnya lembek sehingga jalannya kurang kuat. Keseimbangan tubuhnya kurang bagus. Fisioterapi dan terapi integrasi sensoris akan sangat banyak menolong untuk menguatkan otot-ototnya dan memperbaiki keseimbangan tubuhnya.
5) Terapi Sosial
Kekurangan yang paling mendasar bagi individu autisme adalah dalam bidang komunikasi dan interaksi . Banyak anak-anak ini membutuhkan pertolongan dalam ketrampilan berkomunikasi 2 arah, membuat teman dan main bersama ditempat bermain. Seorang terapis sosial membantu dengan memberikan fasilitas pada mereka untuk bergaul dengan teman-teman sebaya dan mengajari cara-caranya.
6) Terapi Bermain
Meskipun terdengarnya aneh, seorang anak autistik membutuhkan pertolongan dalam belajar bermain. Bermain dengan teman sebaya berguna untuk belajar bicara, komunikasi dan interaksi social. Seorang terapis bermain bisa membantu anak dalam hal ini dengan teknik-teknik tertentu.
7) Terapi Perilaku
Anak autistik seringkali merasa frustrasi. Teman-temannya seringkali tidak memahami mereka, mereka merasa sulit mengekspresikan kebutuhannya, Mereka banyak yang hipersensitif terhadap suara, cahaya dan sentuhan. Tak heran bila mereka sering mengamuk. Seorang terapis perilaku terlatih untuk mencari latar belakang dari perilaku negatif tersebut dan mencari solusinya dengan merekomendasikan perubahan lingkungan dan rutin anak tersebut untuk memperbaiki perilakunya.
8) Terapi Perkembangan
Floortime, Son-rise dan RDI (Relationship Developmental Intervention) dianggap sebagai terapi perkembangan. Artinya anak dipelajari minatnya, kekuatannya dan tingkat perkembangannya, kemudian ditingkatkan kemampuan sosial, emosional dan Intelektualnya. Terapi perkembangan berbeda dengan terapi perilaku seperti ABA yang lebih mengajarkan ketrampilan yang lebih spesifik.
9) Terapi Visual
Individu autistik lebih mudah belajar dengan melihat (visual learners/visual thinkers). Hal inilah yang kemudian dipakai untuk mengembangkan metode belajar komunikasi melalui gambar-gambar, misalnya dengan metode PECS ( Picture Exchange Communication System). Beberapa video games bisa juga dipakai untuk mengembangkan ketrampilan komunikasi.
10) Terapi Biomedik
Terapi biomedik dikembangkan oleh kelompok dokter yang tergabung dalam DAN! (Defeat Autism Now). Banyak dari para perintisnya mempunyai anak autistik. Mereka sangat gigih melakukan riset dan menemukan bahwa gejala-gejala anak ini diperparah oleh adanya gangguan metabolisme yang akan berdampak pada gangguan fungsi otak. Oleh karena itu anak-anak ini diperiksa secara intensif, pemeriksaan, darah, urin, feses, dan rambut. Semua hal abnormal yang ditemukan dibereskan, sehingga otak menjadi bersih dari gangguan. Terrnyata lebih banyak anak mengalami kemajuan bila mendapatkan terapi yang komprehensif, yaitu terapi dari luar dan dari dalam tubuh sendiri (biomedis)
Sabtu, 20 Maret 2010
Selasa, 16 Maret 2010
GANGGUAN PERVASIF
Gangguan pervasif adalah kelompok kondisi psikiatrik di mana keterampilan sosial yang diharapkan, perkembangan bahasa, dan kejadian perilaku tidak berkembang secara sesuai atau hilang pada masa anak-anak awal.
Menurut DSM IV (dalam Kaplan, 2002), ada beberapa gangguan pervasif yang ditemukan pada usia tiga tahun yaitu autis, skizofrenia tipe masa anak-anak, gangguan disintegratif masa anak-anak, dan gangguan Asperger. Kaplan (2002) menghadapi anak dengan gangguan pervasif dapat diterapkan beberapa terapi diantaranya yaitu konseling dengan menggunakan psikoterapi, penggunaan psikotropika, bersekolah di sekolah anak yang normal.
Biasanya anak yang mengalami gangguan pervasif mengalami hambatan dalam interaksi sosial dan komunikasi. Dalam menangani anak khusus, ada beberapa gejala yang perlu diperhatikan antara lain dalam kemampuan interaksi sosial, komunikasi, bermain dan dalam tingkah laku repetitif dan pada aktivitas dan minat yang ia lakukan.
Dalam kemampuan interaksi social, seorang anak yang mengalami gangguan pervasif mengalami hambatan dalam hubungan timbal balik seperti menolak untuk dipeluk atau digendong; gagal mengembangkan permainan bersama teman, karena ia lebih suka bermain sendiri; tidak mampu memahami ekspresi orang lain dan kurang dapat memahami situasi sosial, perilaku yang ia jalani biasanya tidak sesuai dengan situasi yang sedang ia hadapi. Dalam berkomunikasi seorang anak autis 50% mengalami keterlambatan dan abnormalitas dalam berbahasa dan berbicara, biasanya mereka berbicara sendiri tetapi tidak dapat memahami apa yang diucapkannya. Gaya bahasa yang digunakan kaku dan menjemukan serta tidak dapat memahami bahasa nonverbal.
Gejala lainnya dalam aktivitas dan minat mengalami keterbatasan dan terkadang tidak lazim atau aneh, anak autis dapat terpaku lama pada satu permainan dan sulit untuk menerima permainan baru. Anak-anak yang megalami autisme biasanya mengalami penolakan terhadap lingkungan dan rutinitas baru.
Daftar Pustaka :
Kaplan, Harold I., Sadock, Benjamin J, Grebb, Jack A. (2002). Sinopsis psikiatri ilmu pengetahuan psiatri klinis. Jakarta : Binarupa Aksara.
Menurut DSM IV (dalam Kaplan, 2002), ada beberapa gangguan pervasif yang ditemukan pada usia tiga tahun yaitu autis, skizofrenia tipe masa anak-anak, gangguan disintegratif masa anak-anak, dan gangguan Asperger. Kaplan (2002) menghadapi anak dengan gangguan pervasif dapat diterapkan beberapa terapi diantaranya yaitu konseling dengan menggunakan psikoterapi, penggunaan psikotropika, bersekolah di sekolah anak yang normal.
Biasanya anak yang mengalami gangguan pervasif mengalami hambatan dalam interaksi sosial dan komunikasi. Dalam menangani anak khusus, ada beberapa gejala yang perlu diperhatikan antara lain dalam kemampuan interaksi sosial, komunikasi, bermain dan dalam tingkah laku repetitif dan pada aktivitas dan minat yang ia lakukan.
Dalam kemampuan interaksi social, seorang anak yang mengalami gangguan pervasif mengalami hambatan dalam hubungan timbal balik seperti menolak untuk dipeluk atau digendong; gagal mengembangkan permainan bersama teman, karena ia lebih suka bermain sendiri; tidak mampu memahami ekspresi orang lain dan kurang dapat memahami situasi sosial, perilaku yang ia jalani biasanya tidak sesuai dengan situasi yang sedang ia hadapi. Dalam berkomunikasi seorang anak autis 50% mengalami keterlambatan dan abnormalitas dalam berbahasa dan berbicara, biasanya mereka berbicara sendiri tetapi tidak dapat memahami apa yang diucapkannya. Gaya bahasa yang digunakan kaku dan menjemukan serta tidak dapat memahami bahasa nonverbal.
Gejala lainnya dalam aktivitas dan minat mengalami keterbatasan dan terkadang tidak lazim atau aneh, anak autis dapat terpaku lama pada satu permainan dan sulit untuk menerima permainan baru. Anak-anak yang megalami autisme biasanya mengalami penolakan terhadap lingkungan dan rutinitas baru.
Daftar Pustaka :
Kaplan, Harold I., Sadock, Benjamin J, Grebb, Jack A. (2002). Sinopsis psikiatri ilmu pengetahuan psiatri klinis. Jakarta : Binarupa Aksara.
CARA MENANGANI ANAK AUTIS
Autisme adalah gangguan yang tidak bisa disembuhkan (not curable), namun bisa diterapi (treatable). Maksudnya kelainan yang terjadi pada otak tidak bisa diperbaiki namun gejala-gejala yang ada dapat dikurangi semaksimal mungkin sehingga anak tersebut nantinya bisa berbaur dengan anakanak lain secara normal. (Wenar, 1994)
Keberhasilan terapi dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:
A.Berat ringannya gejala atau berat ringannya kelainan otak.
B.Usia, diagnosis dini sangat penting oleh karena semakin muda umur anak saat dimulainya terapi semakin besar kemungkinan untuk berhasil.
C.Kecerdasan, makin cerdas anak tersebut makin baik prognosisnya
D.Bicara dan bahasa, 20 % penyandang autis tidak mampu berbicara seumur hidup, sedangkan sisanya mempunyai kemampuan bicara dengan kefasihan yang berbeda-beda. Mereka dengan kemampuan bicara yang baik mempunyai prognosis yang lebih baik.
E.Terapi yang intensif dan terpadu.
Penanganan atau intervensi terapi pada penyandang autisme harus dilakukan dengan intensif dan terpadu. Terapi secara formal sebaiknya dilakukan antara 4-8 jam sehari. Selain itu seluruh keluarga harus terlibat untuk memacu komunikasidengan anak. Penanganan penyandang autisme memerlukan kerjasama tim yang terpadu yang berasal dari berbagai disiplin ilmu antara lain psikiater, psikologneurolog, dokter anak, terapis bicara dan pendidik.
Beberapa terapi yang harus dijalankan antara lain:
a.Terapi medikamentosa.
Obat-obatan yang sering dipakai di Indonesia adalah
1. Vitamin (Efek samping : Hiperaktivitas, marah-marah, agresif, sulit tidur dan lain sebagainya).
2. Obat-obatan untuk memperbaiki keseimbangan neorutransmitter serotonin dan dopamin (Efek samping: Ngiler,ngantuk, kaku otot).
b.Terapi Wicara
c.Terapi Perilaku
d.Terapi Okupasi
e.Terapi Edukatif atau Pendidikan Khusus
Keberhasilan terapi dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:
A.Berat ringannya gejala atau berat ringannya kelainan otak.
B.Usia, diagnosis dini sangat penting oleh karena semakin muda umur anak saat dimulainya terapi semakin besar kemungkinan untuk berhasil.
C.Kecerdasan, makin cerdas anak tersebut makin baik prognosisnya
D.Bicara dan bahasa, 20 % penyandang autis tidak mampu berbicara seumur hidup, sedangkan sisanya mempunyai kemampuan bicara dengan kefasihan yang berbeda-beda. Mereka dengan kemampuan bicara yang baik mempunyai prognosis yang lebih baik.
E.Terapi yang intensif dan terpadu.
Penanganan atau intervensi terapi pada penyandang autisme harus dilakukan dengan intensif dan terpadu. Terapi secara formal sebaiknya dilakukan antara 4-8 jam sehari. Selain itu seluruh keluarga harus terlibat untuk memacu komunikasidengan anak. Penanganan penyandang autisme memerlukan kerjasama tim yang terpadu yang berasal dari berbagai disiplin ilmu antara lain psikiater, psikologneurolog, dokter anak, terapis bicara dan pendidik.
Beberapa terapi yang harus dijalankan antara lain:
a.Terapi medikamentosa.
Obat-obatan yang sering dipakai di Indonesia adalah
1. Vitamin (Efek samping : Hiperaktivitas, marah-marah, agresif, sulit tidur dan lain sebagainya).
2. Obat-obatan untuk memperbaiki keseimbangan neorutransmitter serotonin dan dopamin (Efek samping: Ngiler,ngantuk, kaku otot).
b.Terapi Wicara
c.Terapi Perilaku
d.Terapi Okupasi
e.Terapi Edukatif atau Pendidikan Khusus
PENYEBAB AUTISME
PENYEBAB AUTISME
Sampai dengan saat ini belum ada ketentuan yang pasti tentang penyebab gangguan autism ini, ada beberapa anggapan sebagai berikut:
A.Teori Psikoanalitik (efrigerator mother). Menurut teori ini, Autism disebabkan pengasuhan ibu yang tidak hangat (Bruno Bettelheim).
B.Teori berpandangn kognitif (Theory of Mind). Menurut teori ini, Autis disebabkan ketidak mampuan membaca pikiran orang lain “mindblindness” (Baron-Ohen, Alan Leslie).
C.Autisme sebagai gejala neurologis atau gangguan Neuro-Anatomi dan Bio-Kimiawi Otak. Menurut penelitian yang ada, 43% dari penyandang autism mempunyai kelainan yang khas didalam lobus parientalisnya (menyebabkan keterbatasan perhatian terhadap lingkungan), menurut Eric Courchesne dari Department of Neurososciences, School of Medicine, University of California, SanDiego, para penyandang autisme memiliki cerebellum yang lebih kecil (bertanggung jawab terhadap proses sensori, daya ingat, berpikir, bahasa, dan perhatian).
D.Teori Biologi, Menurut teori ini, Autis disebabkan oleh Faktor genetik.
E.Teori Imunologi, Menurut teori ini, Autis disebabkan oleh infeksi virus.
Beberapa gangguan yang menyertai autis antara lain:
A.Gangguan sulit tidur dan makan.
B.Gangguan afek dan mood.
C.Perilaku yang membahayakan diri sendiri dan orang lain.
D.Gangguan kejang (10 – 25 %).
E.Kondisi fisik yang khas (anak autis 2 -7 tahun lebih pendek dibanding anak seusianya).
Sampai dengan saat ini belum ada ketentuan yang pasti tentang penyebab gangguan autism ini, ada beberapa anggapan sebagai berikut:
A.Teori Psikoanalitik (efrigerator mother). Menurut teori ini, Autism disebabkan pengasuhan ibu yang tidak hangat (Bruno Bettelheim).
B.Teori berpandangn kognitif (Theory of Mind). Menurut teori ini, Autis disebabkan ketidak mampuan membaca pikiran orang lain “mindblindness” (Baron-Ohen, Alan Leslie).
C.Autisme sebagai gejala neurologis atau gangguan Neuro-Anatomi dan Bio-Kimiawi Otak. Menurut penelitian yang ada, 43% dari penyandang autism mempunyai kelainan yang khas didalam lobus parientalisnya (menyebabkan keterbatasan perhatian terhadap lingkungan), menurut Eric Courchesne dari Department of Neurososciences, School of Medicine, University of California, SanDiego, para penyandang autisme memiliki cerebellum yang lebih kecil (bertanggung jawab terhadap proses sensori, daya ingat, berpikir, bahasa, dan perhatian).
D.Teori Biologi, Menurut teori ini, Autis disebabkan oleh Faktor genetik.
E.Teori Imunologi, Menurut teori ini, Autis disebabkan oleh infeksi virus.
Beberapa gangguan yang menyertai autis antara lain:
A.Gangguan sulit tidur dan makan.
B.Gangguan afek dan mood.
C.Perilaku yang membahayakan diri sendiri dan orang lain.
D.Gangguan kejang (10 – 25 %).
E.Kondisi fisik yang khas (anak autis 2 -7 tahun lebih pendek dibanding anak seusianya).
PENYEBAB AUTISME
PENYEBAB AUTISME
Sampai dengan saat ini belum ada ketentuan yang pasti tentang penyebab gangguan autism ini, ada beberapa anggapan sebagai berikut:
A.Teori Psikoanalitik (efrigerator mother).
Menurut teori ini, Autism disebabkan pengasuhan ibu yang tidak hangat (Bruno Bettelheim).
B.Teori berpandangn kognitif (Theory of Mind).
Menurut teori ini, Autis disebabkan ketidak mampuan membaca pikiran orang lain “mindblindness” (Baron-Ohen, Alan Leslie).
C.Autisme sebagai gejala neurologis atau gangguan Neuro-Anatomi dan Bio-Kimiawi Otak.
Menurut penelitian yang ada, 43% dari penyandang autism mempunyai kelainan yang khas didalam lobus parientalisnya (menyebabkan keterbatasan perhatian terhadap lingkungan), menurut Eric Courchesne dari Department of Neurososciences, School of Medicine, University of California, SanDiego, para penyandang autisme memiliki cerebellum yang lebih kecil (bertanggung jawab terhadap proses sensori, daya ingat, berpikir, bahasa, dan perhatian).
D.Teori Biologi, Menurut teori ini, Autis disebabkan oleh Faktor genetik.
E.Teori Imunologi, Menurut teori ini, Autis disebabkan oleh infeksi virus.
Beberapa gangguan yang menyertai autis antara lain:
A.Gangguan sulit tidur dan makan.
B.Gangguan afek dan mood.
C.Perilaku yang membahayakan diri sendiri dan orang lain.
D.Gangguan kejang (10 – 25 %).
E.Kondisi fisik yang khas (anak autis 2 -7 tahun lebih pendek dibanding anak seusianya).
Sampai dengan saat ini belum ada ketentuan yang pasti tentang penyebab gangguan autism ini, ada beberapa anggapan sebagai berikut:
A.Teori Psikoanalitik (efrigerator mother).
Menurut teori ini, Autism disebabkan pengasuhan ibu yang tidak hangat (Bruno Bettelheim).
B.Teori berpandangn kognitif (Theory of Mind).
Menurut teori ini, Autis disebabkan ketidak mampuan membaca pikiran orang lain “mindblindness” (Baron-Ohen, Alan Leslie).
C.Autisme sebagai gejala neurologis atau gangguan Neuro-Anatomi dan Bio-Kimiawi Otak.
Menurut penelitian yang ada, 43% dari penyandang autism mempunyai kelainan yang khas didalam lobus parientalisnya (menyebabkan keterbatasan perhatian terhadap lingkungan), menurut Eric Courchesne dari Department of Neurososciences, School of Medicine, University of California, SanDiego, para penyandang autisme memiliki cerebellum yang lebih kecil (bertanggung jawab terhadap proses sensori, daya ingat, berpikir, bahasa, dan perhatian).
D.Teori Biologi, Menurut teori ini, Autis disebabkan oleh Faktor genetik.
E.Teori Imunologi, Menurut teori ini, Autis disebabkan oleh infeksi virus.
Beberapa gangguan yang menyertai autis antara lain:
A.Gangguan sulit tidur dan makan.
B.Gangguan afek dan mood.
C.Perilaku yang membahayakan diri sendiri dan orang lain.
D.Gangguan kejang (10 – 25 %).
E.Kondisi fisik yang khas (anak autis 2 -7 tahun lebih pendek dibanding anak seusianya).
GEJALA-GEJALA YANG NAMPAK PADA AUTISME
Gejala autisme infantil timbul sebelum anak mencapai usia 3 tahun. Pada sebagian anak gejala gangguan perkembangan ini sudah terlihat sejak lahir. Chris Williams dan Barry Wright (2007) mengemukakan beberapa simptom autistik yang mungkin sudah muncul diusia 18 bulan, seperti:
A.Tidak melakukan kontak mata.
B.Tidak merespon segera jika dipanggil nama.
C.Tampak berada “didunianya sendiri”.
D.Mengalami hambatan perkembangan bahasa.
E.Kehilangan kemampuan berbahasa.
F.Tidak menggunakan sikap tubuh.
G.Memegang tangan orang dewasa dan menaruhnya pada sesuatu yang ingin dia buka.
H.Tidak memahami sikap tubuh orang lain.
I.Tidak bermain pura-pura.
J.Lebih tertarik pada bagian-bagian permainan.
K.Menghabiskan banyak waktu untuk membariskan benda-benda.
L.Dan melakukan gerakan-gerakan tidak umum (ex. Jalan jinjit).
M.Memaksa membawa dua benda, satu disetiap tangan, seringkali dengan bentuk dan warna sama.
Mengingat di Indonesia belum ada suatu alat tes yang baku untuk mengetahui gangguan pada anak, maka untuk tujuan tersebut dapat dilakukan dengan membandingkan perkembangan anak dengan indikator perkembangan yang normal.
Secara umum ada beberapa gejala autisme yang akan tampak semakin jelas saat anak telah mencapai usia 3 tahun, yaitu:
A.Gangguan dalam komunikasi verbal maupun non verbal seperti terlambat bicara, mengeluarkan kata-kata dalam bahasanya sendiri yang tidak dapat dimengerti, echolalia, sering meniru dan mengulang kata tanpa dimengerti maknanya, dan seterusnya.
B.Gangguan dalam bidang interaksi sosial, seperti menghindari kontak mata, tidak melihat jika dipanggil, menolak untuk dipeluk, lebih suka bermain sendiri, dan seterusnya.
C.Gangguan pada bidang perilaku yang terlihat dari adanya perilaku yang berlebih (excessive) dan kekurangan (deficient) seperti impulsif, hiperaktif, repetitif namun dilain waktu terkesan pandangan mata kosong, melakukan permainan yang sama dan monoton .Kadang-kadang ada kelekatan pada benda tertentu seperti gambar, karet, boneka dan lain-lain yang dibawanya kemana-mana.
D.Gangguan pada bidang perasaan atau emosi, seperti kurangnya empati, simpati, dan toleransi; kadang-kadang tertawa dan marah sendiri tanpa sebab yang nyata dan sering mengamuk tanpa kendali bila tidak mendapatkan apa yang ia inginkan.
E.Gangguan dalam persepsi sensoris seperti mencium-cium dan menggigit mainan atau benda, bila mendengar suara tertentu langsung menutup telinga, tidak menyukai rabaan dan pelukan, dan sebagainya.
Gejala-gejala tersebut di atas tidak harus ada semuanya pada setiap anak autisme, tergantung dari berat-ringannya gangguan yang diderita anak.
A.Tidak melakukan kontak mata.
B.Tidak merespon segera jika dipanggil nama.
C.Tampak berada “didunianya sendiri”.
D.Mengalami hambatan perkembangan bahasa.
E.Kehilangan kemampuan berbahasa.
F.Tidak menggunakan sikap tubuh.
G.Memegang tangan orang dewasa dan menaruhnya pada sesuatu yang ingin dia buka.
H.Tidak memahami sikap tubuh orang lain.
I.Tidak bermain pura-pura.
J.Lebih tertarik pada bagian-bagian permainan.
K.Menghabiskan banyak waktu untuk membariskan benda-benda.
L.Dan melakukan gerakan-gerakan tidak umum (ex. Jalan jinjit).
M.Memaksa membawa dua benda, satu disetiap tangan, seringkali dengan bentuk dan warna sama.
Mengingat di Indonesia belum ada suatu alat tes yang baku untuk mengetahui gangguan pada anak, maka untuk tujuan tersebut dapat dilakukan dengan membandingkan perkembangan anak dengan indikator perkembangan yang normal.
Secara umum ada beberapa gejala autisme yang akan tampak semakin jelas saat anak telah mencapai usia 3 tahun, yaitu:
A.Gangguan dalam komunikasi verbal maupun non verbal seperti terlambat bicara, mengeluarkan kata-kata dalam bahasanya sendiri yang tidak dapat dimengerti, echolalia, sering meniru dan mengulang kata tanpa dimengerti maknanya, dan seterusnya.
B.Gangguan dalam bidang interaksi sosial, seperti menghindari kontak mata, tidak melihat jika dipanggil, menolak untuk dipeluk, lebih suka bermain sendiri, dan seterusnya.
C.Gangguan pada bidang perilaku yang terlihat dari adanya perilaku yang berlebih (excessive) dan kekurangan (deficient) seperti impulsif, hiperaktif, repetitif namun dilain waktu terkesan pandangan mata kosong, melakukan permainan yang sama dan monoton .Kadang-kadang ada kelekatan pada benda tertentu seperti gambar, karet, boneka dan lain-lain yang dibawanya kemana-mana.
D.Gangguan pada bidang perasaan atau emosi, seperti kurangnya empati, simpati, dan toleransi; kadang-kadang tertawa dan marah sendiri tanpa sebab yang nyata dan sering mengamuk tanpa kendali bila tidak mendapatkan apa yang ia inginkan.
E.Gangguan dalam persepsi sensoris seperti mencium-cium dan menggigit mainan atau benda, bila mendengar suara tertentu langsung menutup telinga, tidak menyukai rabaan dan pelukan, dan sebagainya.
Gejala-gejala tersebut di atas tidak harus ada semuanya pada setiap anak autisme, tergantung dari berat-ringannya gangguan yang diderita anak.
PENGERTIAN AUTISME
PENGERTIAN AUTISME
Autisme berasal dari kata “autos” yang berarti segala sesuatu yang mengarah pada diri sendiri. Dalam kamus psikologi umum (1982), autisme berarti preokupasi terhadap pikiran dan khayalan sendiri atau dengan kata lain lebih banyak berorientasi kepada pikiran subyektifnya sendiri daripada melihat kenyataan atau realita kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu penderita autisme sering disebut orang yang hidup di “alamnya” sendiri. Dulu anak-anak yang mengalami gangguan ini telah dideskripsikan dalam berbagai istilah seperti chilhood schizophrenia (Bleuer), sedangkan Margareth Mahler (1952) menyebutnya dengan symbiotic psychotic children dengan gejala-gejala tidak dapat mengembangkan self-object differentiation. Belakangan istilah psikosis cenderung dihilangkan dan dalam Diagnostic and Statistical Maunal of Mental Disorder edisi IV (DSM-IV) Autisme digolongkan sebagai gangguan perkembangan pervasif (pervasive developmental dis-orders), secara khas gangguan yang termasuk dalam kategori ini ditandai dengan distorsi perkembangan fungsi psikologis dasar majemuk yang meliputi perkembangan keterampilan sosial dan bahasa, seperti perhatian, persepsi, daya nilai terhadap realitas, dan gerakan-gerakan motorik.
Autisme atau autisme infantil (Early Infantile Autism) pertama kali dikemukakan oleh Dr. Leo Kanner 1943 seorang psikiatris Amerika. Istilah autisme dipergunakan untuk menunjukkan suatu gejala psikosis pada anak-anak yang unik dan menonjol yang sering disebut Sindrom Kanner (untuk membedakan dengan sidrom Asperger atau autis Asperger). Ciri yang menonjol pada sindrom Kanner antara lain ekspresi wajah yang kosong seolah-olah sedang melamun, kehilangan pikiran dan sulit sekali bagi orang lain untuk menarik perhatian mereka atau mengajak mereka berkomunikasi.
Autisme berasal dari kata “autos” yang berarti segala sesuatu yang mengarah pada diri sendiri. Dalam kamus psikologi umum (1982), autisme berarti preokupasi terhadap pikiran dan khayalan sendiri atau dengan kata lain lebih banyak berorientasi kepada pikiran subyektifnya sendiri daripada melihat kenyataan atau realita kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu penderita autisme sering disebut orang yang hidup di “alamnya” sendiri. Dulu anak-anak yang mengalami gangguan ini telah dideskripsikan dalam berbagai istilah seperti chilhood schizophrenia (Bleuer), sedangkan Margareth Mahler (1952) menyebutnya dengan symbiotic psychotic children dengan gejala-gejala tidak dapat mengembangkan self-object differentiation. Belakangan istilah psikosis cenderung dihilangkan dan dalam Diagnostic and Statistical Maunal of Mental Disorder edisi IV (DSM-IV) Autisme digolongkan sebagai gangguan perkembangan pervasif (pervasive developmental dis-orders), secara khas gangguan yang termasuk dalam kategori ini ditandai dengan distorsi perkembangan fungsi psikologis dasar majemuk yang meliputi perkembangan keterampilan sosial dan bahasa, seperti perhatian, persepsi, daya nilai terhadap realitas, dan gerakan-gerakan motorik.
Autisme atau autisme infantil (Early Infantile Autism) pertama kali dikemukakan oleh Dr. Leo Kanner 1943 seorang psikiatris Amerika. Istilah autisme dipergunakan untuk menunjukkan suatu gejala psikosis pada anak-anak yang unik dan menonjol yang sering disebut Sindrom Kanner (untuk membedakan dengan sidrom Asperger atau autis Asperger). Ciri yang menonjol pada sindrom Kanner antara lain ekspresi wajah yang kosong seolah-olah sedang melamun, kehilangan pikiran dan sulit sekali bagi orang lain untuk menarik perhatian mereka atau mengajak mereka berkomunikasi.
Langganan:
Postingan (Atom)